Pernah datang ke konser musik? Festival musik? Pensi? Gig? Showcase? Apapun itu nama dan istilahnya, pertanyaan kedua, apakah anda pernah datang ke semua jenis pertunjukan tersebut?, kalu saya yang menjawab, ya saya pernah. Kesimpulan saya untuk semua pertunjukan tersebut (walaupun sama sekali kurang berkaitan), orang Indonesia, termasuk saya adalah ras yang unik dan tiada bandingannya di dunia.Gig, adalah acara kecil-kecilan di cafĂ© atau bar, biasanya mengusung genre musik tertentu, di jogja, mayoritas gigs adalah peruntukan bagi para head bangers, walaupun sekarang sudah mulai banyak gigs untuk genre lain. Anda pasti akrab dengan musik underground, kalau di jogja, pertunjukan musiknya yang underground alias di bawah tanah, ya, seperti konsep Terminal Bus Blok M, gigs ini ada di bawah tanah. Saya baru dua kali “menikmati” musik di bawah tanah tersebut. Awalnya saya pikir, “malam ini, kepala saya tidak akan selamat, darah dan mosh pit dimana-mana ” maklaum malam itu saya datang menjadi roadies salah satu band scream metal lokal , tempat itu sempit, gelap dan dibangun dibawah tanah, genre musik malam itu juga mendukung untuk moshing. Raungan distorsi kasar memekakan telinga dengan beat double pedal menghentak, seharusnya cukup membuat orang-orang yang datang untuk “moshing” tapi diluar dugaan, tidak ada mosh-pit sama sekali sampai akhir pertunjukan. Hebat. Vokalis bersuara mirip mesin diesel sedang di over haul disaksikan mereka dengan manis duduk di pinggir, bersandar ke tembok, hanya terlihat beberapa orang maju kedepan mengambil gambar dengan kamera. Aksi paling maksimal pada malam itu adalah orang yang mabuk dan berteriak “suuuuwiii!!!” (baca : lama). Salut, ada musik metal tanpa head bang . Sebenarnya saya juga pernah hadir di salah satu gig metal di Purwokerto, tapi tidak saya ceritakan lebih lanjut karena gig seperti itu ada banyak dan bisa anda cari di youtube dengan deskripsi yang tepat untuk gig, ramai, bau alcohol dan mosh-pit.
Pensi, adalah singkatan dari pentas seni, populer diawal tahun 2000an , dan biasanya diadakan oleh SMA atau kampus. Genre musiknya bermacam-macam karena artis yang ditampilkan bervariasi, dengan tujuan dapat merangkul semua genre musik. Singkatnya untuk pensi adalah, anak muda, murah, dan berpotensi kerusuhan, sama sekali tidak ada deskripsi dari perspektif musik dari saya. Saya sendiri pernah membuat pensi waktu SMA, tapi itu cerita lain. Apa anda pernah liat seseorang yang menunjukan “torpedo” di depan umum? “torpedo” hanya boleh diperlihatkan kepada dokter spesialis kelamin dan pasangan resmi kita, tapi saya dan lima ribu orang lainnya pernah melihatnya di sebuah pensi di tahun 2002. Seorang pemuda tanggung naik keatas rigging (pagar pembatas panggung), kemudian menurunkan celananya kemudian sangkar “torpedo”nya juga diturunkan. Saya ragu ia melakukannya karena fanatisme, pertama band yang sedang tampil adalah club 80’s bukan Metallica, U2, atau Slank , kedua Lembu, vokalis club 80’s bukan seorang dokter kelamin atau ahli alat vital dari Cimande. Saya juga yakin ia tidak dibawah pengaruh alcohol karena kemanan cukup ketat, yang saya yakin ia masih muda dan mungkin cuaca malam itu membuatnya kepananasan, dan semilir angin yang ia dapat dari membuka kaosnya masih kurang. Ini deskripsi pertama,anak muda. Tiket pensi dapat dikatakan terjangkau, sejak 2001 sampai sekarang, harga tiketnya berkisar dari 5000 sampai 30.000 rupiah tergantung jenis pensinya,tapi apakah lantas para penonton membeli tiket? Ya,anda tahu jawabannya, kalau bisa gratis, kenapa harus bayar? Istilah singkatnya adalah “tunggu jebol”, ini deskripsi kedua, murah. Plaza Barat Senayan dikenal sebagai venue pensi paling popular, tapi di tahun 2006, sebuah kerusuhan akibat dari sebuah pensi menghanguskan popularitas Plaza Barat. Bukan pensi yang dimaksud saja yang berujung atau diwarnai kerusuhan, ada banyak namun kerusuhan akibat pensi yang dimaksud ini adalah yang terbesar, dan kita semua memiliki versi masing-masing dari kerusuhan ini. Ini deskripsi ketiga berpotensi kerusuhan
Konser musik, kalau yang ini sudah jelas, biasanya hanya diisi satu artis. Saya beberapa kali menonton konser musik, baik artis dalam maupun luar negeri. Untuk pertunjukan jenis ini kita dapat lebih menikmati musik yang disuguhkan si artis, karena memang seluruh penontonnya sudah satu tujuan, kita bahkan bisa saling berkenalan dan bernyanyi bersama dan pulang dengan kenangan atas konser tersebut, tapi konser musik di beberapa daerah di Indonesia membuat kapolda setempat kerut dahi dalam-dalam. Rutin tiap tahunnya ada konser di daerah-daerah, dan rutin pula korban jiwa melayang, karena kejadian yang klise, yaitu penonton yang berdempetan dan kehabisan napas, apa yang sebenarnya terjadi?. Penonton tanpa tiket, memaksa masuk ke venue konser yang sudah penuh sesak, mereka saling dorong dan mereka yang sudah ada di dalam terjepit tidak bisa bergerak. Peristiwa seperti ini seringkali menyalahkan pihak keamanan dan penyelenggara, tapi saya tidak akan ikut menyalahkan mereka, yang salah adalah kita dan mereka yang memaksa masuk tanpa tiket. Menonton konser tanpa tiket dapat dianalogikan dengan menyalakan mobil tanpa kunci kontak, apa sebutannya? Maling. Di luar negeri, bila seseorang ingin menonton konser ia akan menempuh berbagai cara untuk mengumpulkan uang untuk membeli tiket,bukan dengan nekat menerobos dan memanjat, padahal di sana tiket konser jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan di sini.
Showcase adalah pertunjukan musik dengan format yang lebih elegan dan fancy, biasanya launching album artis tertentu atau genre tertentu yang karakter musiknya lebih kalem. Showcase dapat memberikan nuansa dan sensai menikmati pertunjukan yang berbeda dari pertunjukan musik lainnya, karena penyelenggara sudah sangat siap dengan konsep yang fancy,tapi yang mau saya ceritakan adalah showcase di jogja. “PEEERGII! TANPA PESAAAAN!!.. PERGII! TANPA PESAAAAN!!.. PERGII! TANPA PESAAAAN!!..” seorang pria setengah mabuk berteriak kalimat itu sampai akhirnya band tersebut memainkan lagu yang ia minta, dan malam itu pula saya dapat kesempatan diciprati liur vokalis band tersebut karena persis dibawah stand mike adalah saya, padahal bila band ini bermain di jakarta, saya hanya bisa melihat kumis vokalisnya. Lain cerita di sebuah showcase di tempat yang lebih kecil. “SSEERIGALA MMILITIAAAA!!! SSEERIGALA MMILITIAAAA!!! SSEERIGALA MMILITIAAAA!!!...”. saya salah satu pendengar setia band yang malam itu sedang tampil di lagu terakhir, dan saya hafal persis lirik lagu mereka dan saya yakin judul lagu yang diteriakan sudah dimainkan sebagai lagu ke dua, lagu yang dimaksud oleh orang yang berteriak dengan urat nadi terakhir di lehernya dan mulutnya tepat di belakang kuping saya. Mereka hanya tahu satu lagu atau sangat-sangat menyukai lagu tersebut, atau sekedar berteriak, atau maksud lain, saya pun berusaha untuk tidak peduli.
Kalimat terakhir saya adalah untuk festival musik. Ini adalah pertunjukan yang paling memuaskan kecintaan kita terhadap musik, karena musik yang disajikan sudah pasti yang terbaik,dengan kenyamanan yang terbaik juga bagi penonton. Mereka yang merupakan penggemar musik akan merogoh kocek lebih dalam untuk membeli tiket, sedangkan mereka para tersohor dan orang – orang dengan otoritas dapat melenggang masuk tanpa tiket. Ada beberapa cerita tentang satu festival musik yang saya tonton,tapi itu cerita yang berbeda.
Tiap orang Indonesia punya caranya sendiri untuk “menikmati” pertunjukan musik
(foto diambil pada gig yang berbeda)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar