Jumat, 18 Maret 2011

Musik Mengikuti "pasar" (ditulis 27 Mei 2009)

Telinga orang Indonesia bereaksi hebat terhadap musik dalam negerinya sendiri, menciptakan apa yang dinamakan “selera pasar”. Saya termasuk yang beruntung lahir di era rock 90an, tumbuh dengan masih mengenal musik-musik dengan kualitas aransemen terbaik, masa remaja saya geliat musik independent juga sedang pesat-pesatnya, pentas seni SMU banyak dipertunjukan maklum dulu belum ada media promosi RBT, facebook, bahkan friendster, yang merupakan jalan pintas band “kemarin sore “ dengan musik “kemarin subuh”. Musisi di luar menurut saya juga pernah mengikuti “selera pasar” tersebut.


Belum lama saya mendengarkan album pertama Jamiroquai, yang dirilis tahun 1993, yaitu Emergency On Planet Earth. Ada beberapa lagu di album ini yang berulang kali saya dengarkan, yaitu “If I Like It I Do It”, “Hooked Up”, Revolution 1993” dan “Music Of The Mind”. Jason Kay sang vokalis,sekaligus komposer memang hebat, album pertama ini benar-benar kaya dengan perpaduan brass section, string section dan sound-sound modern dari synthesizer. Sedikit berbeda dengan album-album setelahnya seperti Travelling Without Moving, Space Cowboy, Synkronized dan Funk Oddysey, yang sudah didominasi irama disco dan funk. Semua warna musik dari Funk, Samba, Disco, Jazz, Electro,sampai Blues semuanya ada di album ini. Pada era 90an awal, di eropa sana memang disco, electro , dan house musik sedang menjamur dan banyak mempengaruhi banyak musisi dalam membuat lagu, yang paling “lunak” adalah funk jazz, band seperti Jamiroquai, Brand New Heavies dan Incognito “meracuni” komposisi mereka dengan dance musik tadi, agar lebih laku “dimakan” oleh pasar. “Racun” itu memang hebat, dosisnya tepat, musik laku keras, tapi para artis tetap memiliki “sentuhan” pada karya-karya mereka, setidaknya ketika tampil langsung mereka masih dengan format band.


Anda pernah dengan lagu “Hit The Lights” milik Metallica? Lagu itu merupakan single pertama dari album Ride The Lightning. Metallica pada waktu itu, setelah memecat Dave Mustaine sebagai vokalis kemudian diganti James Hetfield dan almarhum Cliff Burton sebagai basis. Kacau, kasar, dan absurb. Lagu ini mengantar metallica melalui lautan pub dengan hujanan botol bir, karena musik mereka sangat mentah. Kalau anda punya versi demo anda akan tahu kenapa botol bir bisa melayang di pub-pub tersebut. Masuk era 80an akhir, Master Of Puppets, keluar, Sebagian kritikus berpendapat “Black Sabbath menciptakan musik Metal, dan Metallica menyempurnakan ke titik tertinggi!” , sebagian besar fans metallica menganggap album ini yang terbaik, karena komposisi musik Metal yang pas dan Kirk Hammet menunjukan kelasnya sebagai gitaris pada setiap lagu. Black Album yang rilis 1991, diprotes habis-habisan, fans tak menyangka, James Hetfield menggubah lagu secengeng “Nothing Else Matters” , Metallica “minta maaf” dengan merilis Fuel di tahun 1996, fans suka? Ya, bolehlah, tapi masih dirasa kurang. St.Anger rilis setelah vakum hampir 10 tahun, fans kembali kecewa, memang garang albumnya tapi Kirk Hammet kemana? Solo gitarnya mana?. Album Metallica yang terakhir yaitu Death Magnetic keluar tahun 2009,mereka seakan terlahir kembali, lagu dengan durasi panjang dan solo gitar yang menunjukan bahwa Kirk Hammet masih virtuoso-nya music metal. Fans dengan senang hati memaafkan mereka, Era berganti, musisi sekeras Metallica pun “melunak” walaupun akhirnya “keras” lagi.


Bagaimana dengan musik Indonesia? Setelah kerusuhan 1998, era reformasi dimulai, tidak lama empat band yang punya basis fan besar (sampai sekarang) yaitu GIGI, Dewa 19, Slank, dan Sheila on 7 mengadakan konser bersama (saya lupa kapan) , kenapa empat band ini yang saya bahas?, karena mereka masih konsisten dengan warna bermusik mereka. GIGI yang menurut saya khas dengan musikalitasnya namun tetap laku di pasaran, Slank yang tidak berhenti berkontribusi untuk musik rock tanah air, Sheila on 7 yang sudah terpecah pun sampai sekarang masih bisa mempertahankan konsep lagu-lagu cinta remaja mereka, Dewa? Kenapa berulang kali saya membahas Dewa? Setidaknya sampai album Bintang Lima saya masih mau mengaku saya Baladewa (sebutan untuk fans Dewa), tapi setelah album tersebut, saya bingung, kemana komposisi musik mereka yang kaya?, Ahmad Dhani yang mendaulat dirinya sebagai “Mister Master” dengan lihai merancang kerajaan manajemen bandnya yang sekarang kita kenal Republik Cinta, hebat, pasar “melahap” dengan rakus hasil dari rancangannya ini, komposisi kaya diganti dengan serombongan musisi berpenampilan seperti Marylin Manson salah kostum kemudian didukung serombongan wanita dengan penampilan yang.. (anda berhak menilai sendiri).


GIGI, Slank, dan Sheila on 7 tetap memperhatikan “selera pasar” bahkan mereka seolah ingin mendapatkan fans baru. Mereka tetap memperhatikan musikalitasnya dan tetap laku, sebuah hal yang sudah jarang diperhatikan band “kemarin sore” yang ingin meraup banyak keuntungan dengan jalan pintas. Setelah era band besar seperti mereka muncul band dengan basis fans yang juga besar, Peterpan, Padi dan Coklat, ketiganya bisa dikatakan satu angkatan karena single mereka ada dalam satu album kompilasi Independent “Indie Ten”. apakah mereka disukai pasar? , Tentu, Apakah dengan tetap memperhatikan musikalitas? Pasti. Setidaknya bagi mereka yang sekedar mendengarkan lagu-lagu mereka bisa berpendapat bahwa tiga band tadi memiliki ciri khas.


Bagaimana dengan band-band baru? Saya lebih suka menyebutnya band “inbox-dahsyat” atau band “RBT”. Bila mau diperpanjang tulisan ini, saya rasa tidak akan selesai, singkatnya saya sangat bingung apa yang ada di pikiran mereka?. Saya tidak bisa membedakan mereka, dan yang paling parah, saya pernah lihat di suatu acara tangga lagu TV ada salah satu vokalis yang sedang tampil, menulis kata “damai” di punggung tangannya, dia pikir dia sudah sama dengan Chris Martin? (Chris menulis “make trade fair”, di punggung tangannya yang merupakan salah satu kampanyenya dibidang perdagangan di Afrika) belakangan ini saya tau nama band tersebut LYLA, kalau saja Eric Clapton tau, ia pasti kecewa. Prihatin, masih banyak yang bisa digali dari kekayaan budaya kita dari sekedar RBT yang laku keras. Metallica dan Jamiroquai (yang sudah dibahas di awal) pernah ingin musiknya sesuai dengan pasar, tapi mereka masih memiliki sentuhan pada karya-karyanya.

Maju terus musik Indonesia!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar