Jumat, 18 Maret 2011

Klayar Trip (ditulis 9 November 2009)

Bagi anda yang tinggal di jogja mungkin sudah sering mengunjungi pantai-pantai seperti parangtritis , baron, samas, siung, depok dan masih banyak lagi, tetapi semua pantai tersebut sudah kotor dan pasirnya pun abu-abu hitam. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke lombok atau hawaii untuk mencari pantai dengan pasir putih dan susunan karang yang megah. Di pulau jawa ada satu pantai yang sudah saya kunjungi, dan masih "virgin", untuk menemukannya anda harus ke Pacitan Jawa Timur, pantai itu bernama Pantai Klayar. Disebut demikian karena disana terdapat batu besar yang terkikis ombak hingga terbentuk seperti layar kapal. Sudah sekitar dua minggu saya dan teman-teman saya merencanakan untuk ke Klayar, setelah rencana dirasa mantap kamipun mengumpulkan pasukan dan berangkat.

Perjalanan ke Klayar dibutuhkan waktu kira-kira empat jam dari Jogjakarta. Dari Jogja langsung saja menuju Wonosari, kota kecil diatas bukit. Pada perjalanan saya kemarin, mobil yang saya tumpangi bersama 6 teman saya mogok di tanjakan karena kampas kopling terbakar, bila kejadian ini nanti terjadi pada anda, tidak perlu khawatir, warga sekitar tanggap dengan turis yang kesulitan,dengan sigap seorang bapak mengantar kami ke bengkel yang tempatnya jauh terpencil, kami pun tak menyangka ditempat seperti itu ada bengkel.

Lepas Wonosari kami menuju Wonogiri, kira-kira 2,5 jam kami baru menemukan kota Wonogiri tersebut, karena si sepanjang jalan tidak ada petunjuk jalan, begitu sampai di Wonogiri kami harus beberapa kali bertanya pada warg arah jalan ke Pacitan, setelah 1,5 jam tersesat kami menuju arah yang benar, yaitu kabupaten Pacitan, jalan yang ada untuk menuju Pacitan dari Wonogiri sangat terbatas, hanya mampu dilewati satu buah mobil, kalau bertemu mobil yang berlawanan arah, mobil kami harus begitu mepet dengan jurang. Sesampainya di kabupaten tersebut kami istirahat sholat dan makan siang, namun petualangan belum berakhir tentunya.

Setelah istirahat sejenak kami pun melanjutkan perjalanan, tersasar rasanya sudah biasa pada perjalan itu, kami bertanya di restoran tempat kami makan, bertanya pada tukang ojek, dan yang memang mitra masyarakat, POLISI, setelah bertanya pada POLISI tersebut, kami menuju arah yang benar. Dari Kabupaten Pacitan, kami harus mencari desa Punung, dari desa itu kami harus menuju obyek Wisata Goa Gong, baru bisa menuju Klayar, karena jalan lain menuju kesana tidak layak dilewati mobil. Dari desa Punung ke Goa Gong kira-kira 45 menit perjalanan naik turun mengitari bukit, dengan jalan yang lebih sempit dari sebelumnya, ban mobil kami kurang dari satu meter dengan jurang, beruntung teman kami seorang driver profesional bersertifikat internasional dengan kemampuan mengemudi yang luar biasa. sebelum sampai di Goa Gong kami kembali bertanya pada warga sekitar, setelah jawaban terakhir dari warga tersebut kami pun yakin Klayar di depan sana.

Jalan yang ditempuh dari Goa Gong menuju pantai Klayar, sekitar 25 menit, kembali menyusuri bukit dengan hutan lebat dan hanya ada beberapa rumah warga, kalau malam sudah tentu tidak ada penerangan. Satu kilometer terakhir ditempuh dengan jalan berbatu yang tidak rata, namun angin pantai sudah terasa. Kami memang sudah tidak sabar untuk sampai sejak dari Wonogiri, kami peun berkelakar "jangan-jangan sampai sana pantainya sedang dikuras". Begitu sampai di tanjakan terkahir, pantaipun terlihat, cape, panas, dan pegal sepanjang perjalanan hilang dengan sendirinya. Setelah mobil diparkir, kami tidak membuang waktu untuk segera menikmati indahnya pantai Klayar.

Pantai ini benar-benar belum terjamah, disana hanya ada warga sekitar, berjualan minuman seadanya dan hanya ada fasilitas MCK sederhana, bahkan jika anda beruntung anda bisa menjadi satu - satunya pengunjung pantai tersebut. Persis seperti yang saya temukan di internet, pasirnya putih kecoklatan, persis seperti di wallpaper komputer, ombak yang mengulung kemudian menghantam tebing dan karang, pemandangan yang saya sendiri baru melihatnya. Ombak di pantai ini termasuk berbahaya, kami diperingatkan sebelumnya oleh warga jangan bermain ombak dan jangan menaiki tebing, sayang sekali padahal di tebing tersbut ada batu yang seperti layar, yang tadi saya ceritakan.

Senyum tak pernah lepas dari wajah kami, karena kami semua belum pernah melihat pantai dengan pemandangan seperti ini. Tapi sayang, kami sampai disana sore hari, sehingga kami harus lekas pulang karena sudah mulai gelap.

Perjalanan pulang kami lewat Wonogiri untuk menuju Solo, kami mau makan malam disana. Rasanya puas sekali, lepas ujian semester kami bisa travelling ke tempat hebat dengan teman - teman yang hebat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar