Jumat, 18 Maret 2011

seharusnya mereka tidak diganti, seharusnya mereka tidak bubar (ditulis 22 May 2009 )

Deep Purple's keyboardist Jon lord > Don Airey

keyboard adalah instrumen yang memberi nyawa pada setiap lagu deep purple, begitu jon lord digantikan don airey (ex ozzy osbourne), penampilan live deep purple kurang hidup karena gaya permainan mereka berbeda, jon lord di usianya yang semakin tua, justru bermain makin meledak-ledak,beda dengan don airey, dia seperti addtional player yang ikut serta dalam photo session.

Deep Purple's guitarist Ritchie Blackmore - Joe Satriani - Steve Morse

kurang menggigit, kurang kasar, terlalu modern. saya kebih suka "garukan" ritchie blackmore. kasar dan raungannya mengisi seluruh ruangan. gaya panggungnya juga khas, dingin tanpa ekspresi.bisa diliat di dvd konser reunian mereka live in london.

Metallica's bassist Cliff Burton (RIP) - Jason Newstead - Robert Trujillo

cliff burton meninggal dalam kecelakaan tragis di tahun 1986, ia "mencelat" keluar dari dalam
bus dan jatuh ke jurang, kemudian digantikan jason newstead, dengan  tradisi  perploncoan dari para personil Metallica lainnya dengan mengurungnya di satu ruangan berisi granat  yang akan meledak, ia pun  dinyatakn lulus untuk menggantikan cliff, jason sangar dalam rekaman dan pertunjukan langsung. sedikit fans yang kecewa dengan pergantian ini, termasuk saya. trujilo memang sangar dipanggung (bisa anda nilai sendiri), tapi ada hilang dari line bass metallica menurut saya, terutama bila memainkan lagu-lagu lama.

Dewa 19's vocalist Ari Lasso - Elfonda Michael

saya harap banyak yang setuju, seharusnya ari lasso tetap jadi vokalis dewa. lagu-lagu dewa yang sekarang sangat jauh dari warna lagu-lagu dewa di era 90an, yang menurut saya ,warna terbaik dari musik mereka. sound rock gitar andra ramadhan hilang begitu saja, begitu once masuk sebagai vokalis.
ahmad dhani si narsis ini sedikit sakit.

Dewa 19's drummer Aksan Syuman - Tyo Nugros - ??? ex purgatory

aksan syuman membuat keputusan yang bagus ketika ia meninggalkan dewa, seorang sarjana musik dari wolfsgang music institute dengan predikat summa cum laude pernah bermain dengan band seperti dewa 19, yang musiknya "bertranformasi" banyak yang ragu aksan seorang drummer jazz bisa bermain dengan musik dewa, tapi justru aksan lebih rock dari drummer-drummer penggantinya seperti   tyo nugros adalah ex getah, dan drummer yang sekarang adalah ex purgatory, tapi mereka disetir dhani, tidak seperti aksan, dia punya gaya sendiri.

mereka yang seharusnya tidak bubar

Blur 1989-2003 reunion 2009

sibuk dengan idealisme dan eksperimen side projectnya, graham coxon dan damon albarn membuat blur jalan sendiri-sendiri, kabarnya mereka reuni tahun 2009 tapi, di Inggris Raya sana menurut saya, mereka pionirnya grup brit dengan sound-sound distorsi, terbukti mereka penasaran dengan sound-sound distorsi sampai-sampai lupa dengan blur itu sendiri.

Rage Against The Machine 1991-2000 reunion 2007

bertemu dengan tom morello, (jurusan antropologi) di kampus harvard, zack de la rocha (jurusan sastra) membentuk Rage Against The Machine, hip metal yang khas dengan distorsi gitar tom morello.  sound gitar tom morello yang eksperimental dan lirik dengan kritik sosial menjadi ciri khas mereka di tahun 2000 zack de la rocha mengundurkan diri dan membuat side project dengan trent reznor dari nine inch nails, sedangkan tom, brad dan tim membuat audioslave dengan chris cornell (ex soundgarden) tahun 2007 mereka sempat reuni di coachela festival, tapi seperti reuni pada umumnya, setelah cium pipi kanan kiri,pulang kerumah masing-masing, tidak ada album.

dan mereka yang tidak bubar sampai sekarang

U2 1972-sekarang

larry mullen jr, drummer u2 adalah orang yang berjasa mendirikan u2, sampai sekarang ia masih ingin nama band ini adalah "larry mullen jr. band", karena ia yang memasang iklan di koran-koran untuk mencari personil band, dan kemudian bergabunglah 3 orang lainnya, paul david hewson a.k.a bono, david howell evans a.k.a the edge dan adam clayton.yang beda dari u2, di tiap album mereka mencoba warna musik yang baru dan diluar warna musik mereka dan setelah 22 penghargaan grammy juga 145 juta album terjual ,mereka tetap sepaham dengan KODAM JAYA dan POLDA METRO JAYA, "damai itu indah" puluhan tahun berkarir, belum pernah ada rumor mereka akan bubar.

Radiohead 1985-sekarang

"..rockstar legend alive, please welcome RADIOHEAD!!" kutipan ucapan Zooey Deschanel pada grammy award sebelum radiohead membawakan 15 step dengan iringan marching band,layaknya  band yang berpengaruh, audience grammy award malam itu "terhipnotis" penampilan mereka. York, o'brien,john dan colin greenwood serta phil belum pernah silang pendapat tentang pekerjaan mereka selama ini, yaitu membuat musik. dikutip dari rolling stone edisi mei 2008 chris martin pada wawancara mengatakan "saya rela dikebiri untuk sebuah lagu seperti paranoid android" perlu lebih dari sepasang telinga untuk mendengarkan musik mereka, dan perlu lebih dari sebuah rumor untuk membubarkan mereka.

Pertunjukan (ditulis 4 juli 2009 )


Pernah datang ke konser musik? Festival musik? Pensi? Gig? Showcase? Apapun itu nama dan istilahnya, pertanyaan kedua, apakah anda pernah datang ke semua jenis pertunjukan tersebut?, kalu saya yang menjawab, ya saya pernah. Kesimpulan saya untuk semua pertunjukan tersebut (walaupun sama sekali kurang berkaitan), orang Indonesia, termasuk saya adalah ras yang unik dan tiada bandingannya di dunia.

Gig, adalah acara kecil-kecilan di cafĂ© atau bar, biasanya mengusung genre musik tertentu, di jogja, mayoritas gigs adalah peruntukan bagi para head bangers, walaupun sekarang sudah mulai banyak gigs untuk genre lain. Anda pasti akrab dengan musik underground, kalau di jogja, pertunjukan musiknya yang underground alias di bawah tanah, ya, seperti konsep Terminal Bus Blok M, gigs ini ada di bawah tanah. Saya baru dua kali “menikmati” musik di bawah tanah tersebut. Awalnya saya pikir, “malam ini, kepala saya tidak akan selamat, darah dan mosh pit dimana-mana ” maklaum malam itu saya datang menjadi roadies  salah satu band scream metal lokal , tempat itu sempit, gelap dan dibangun dibawah tanah, genre musik malam itu juga mendukung untuk moshing. Raungan distorsi kasar memekakan telinga dengan beat double pedal menghentak, seharusnya cukup membuat orang-orang yang datang untuk “moshing” tapi diluar dugaan, tidak ada mosh-pit sama sekali sampai akhir pertunjukan. Hebat. Vokalis bersuara mirip mesin diesel sedang di over haul disaksikan mereka dengan manis duduk di pinggir, bersandar ke tembok, hanya terlihat beberapa orang maju kedepan mengambil gambar dengan kamera. Aksi paling maksimal pada malam itu adalah orang yang mabuk dan berteriak “suuuuwiii!!!” (baca : lama). Salut, ada musik metal tanpa head bang . Sebenarnya saya juga pernah hadir di salah satu gig metal di Purwokerto, tapi tidak saya ceritakan lebih lanjut karena gig seperti itu ada banyak dan bisa anda cari di youtube dengan deskripsi yang tepat untuk gig, ramai, bau alcohol dan mosh-pit.

Pensi, adalah singkatan dari pentas seni, populer diawal tahun 2000an , dan biasanya diadakan oleh SMA atau kampus. Genre musiknya bermacam-macam karena artis yang ditampilkan bervariasi, dengan tujuan dapat merangkul semua genre musik. Singkatnya untuk pensi adalah, anak muda, murah, dan berpotensi kerusuhan, sama sekali tidak ada deskripsi dari perspektif musik dari saya. Saya sendiri pernah membuat pensi waktu SMA, tapi itu cerita lain. Apa anda pernah liat seseorang yang menunjukan “torpedo” di depan umum? “torpedo” hanya boleh diperlihatkan kepada dokter spesialis kelamin dan pasangan resmi kita, tapi saya dan lima ribu orang lainnya pernah melihatnya di sebuah pensi di tahun 2002. Seorang pemuda tanggung naik keatas rigging (pagar pembatas panggung), kemudian menurunkan celananya kemudian sangkar “torpedo”nya juga diturunkan. Saya ragu ia melakukannya karena fanatisme, pertama band yang sedang tampil adalah club 80’s bukan Metallica, U2, atau Slank , kedua Lembu, vokalis club 80’s bukan seorang dokter kelamin atau ahli alat vital dari Cimande. Saya juga yakin ia tidak dibawah pengaruh alcohol karena kemanan cukup ketat, yang saya yakin ia masih muda dan mungkin cuaca malam itu membuatnya kepananasan, dan semilir angin yang ia dapat dari membuka kaosnya masih kurang. Ini deskripsi pertama,anak muda. Tiket pensi dapat dikatakan terjangkau, sejak 2001 sampai sekarang, harga tiketnya berkisar dari 5000 sampai 30.000 rupiah tergantung jenis pensinya,tapi apakah lantas para penonton membeli tiket? Ya,anda tahu jawabannya, kalau bisa gratis, kenapa harus bayar? Istilah singkatnya adalah “tunggu jebol”, ini deskripsi kedua, murah. Plaza Barat Senayan dikenal sebagai venue pensi paling popular, tapi di tahun 2006, sebuah kerusuhan akibat dari sebuah pensi menghanguskan popularitas Plaza Barat. Bukan pensi yang dimaksud saja yang berujung atau diwarnai kerusuhan, ada banyak namun kerusuhan akibat pensi yang dimaksud ini adalah yang terbesar, dan kita semua memiliki versi masing-masing dari kerusuhan ini. Ini deskripsi ketiga berpotensi kerusuhan

Konser musik, kalau yang ini sudah jelas, biasanya hanya diisi satu artis. Saya beberapa kali menonton konser musik, baik artis dalam maupun luar negeri. Untuk pertunjukan jenis ini kita dapat lebih menikmati musik yang disuguhkan si artis, karena memang seluruh penontonnya sudah satu tujuan, kita bahkan bisa saling berkenalan dan bernyanyi bersama dan pulang dengan kenangan atas konser tersebut, tapi konser musik di beberapa daerah di Indonesia membuat kapolda setempat kerut dahi dalam-dalam. Rutin tiap tahunnya ada konser di daerah-daerah, dan rutin pula korban jiwa melayang, karena kejadian yang klise, yaitu penonton yang berdempetan dan kehabisan napas, apa yang sebenarnya terjadi?. Penonton tanpa tiket, memaksa masuk ke venue konser yang sudah penuh sesak, mereka saling dorong dan mereka yang sudah ada di dalam terjepit tidak bisa bergerak. Peristiwa seperti ini seringkali menyalahkan pihak keamanan dan penyelenggara, tapi saya tidak akan ikut menyalahkan mereka, yang salah adalah kita dan mereka yang memaksa masuk tanpa tiket. Menonton konser tanpa tiket dapat dianalogikan dengan menyalakan mobil tanpa kunci kontak, apa sebutannya? Maling. Di luar negeri, bila seseorang ingin menonton konser ia akan menempuh berbagai cara untuk mengumpulkan uang untuk membeli tiket,bukan dengan nekat menerobos dan memanjat, padahal di sana tiket konser jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan di sini.

Showcase adalah pertunjukan musik dengan format yang lebih elegan dan fancy, biasanya launching album artis tertentu atau genre tertentu yang karakter musiknya lebih kalem. Showcase dapat memberikan nuansa dan sensai menikmati pertunjukan yang berbeda dari pertunjukan musik lainnya, karena penyelenggara sudah sangat siap dengan konsep yang fancy,tapi yang mau saya ceritakan adalah showcase di jogja. “PEEERGII! TANPA PESAAAAN!!.. PERGII! TANPA PESAAAAN!!.. PERGII! TANPA PESAAAAN!!..” seorang pria setengah mabuk berteriak kalimat itu sampai akhirnya band tersebut memainkan lagu yang ia minta, dan malam itu pula saya dapat kesempatan diciprati liur vokalis band tersebut karena persis dibawah stand mike adalah saya, padahal bila band ini bermain di jakarta, saya hanya bisa melihat kumis vokalisnya. Lain cerita di sebuah showcase di tempat yang lebih kecil. “SSEERIGALA MMILITIAAAA!!! SSEERIGALA MMILITIAAAA!!! SSEERIGALA MMILITIAAAA!!!...”. saya salah satu pendengar setia band yang malam itu sedang tampil di lagu terakhir, dan saya hafal persis lirik lagu mereka dan saya yakin judul lagu yang diteriakan sudah dimainkan sebagai lagu ke dua, lagu yang dimaksud oleh orang yang berteriak dengan urat nadi terakhir di lehernya dan mulutnya tepat di belakang kuping saya. Mereka hanya tahu satu lagu atau sangat-sangat menyukai lagu tersebut, atau sekedar berteriak, atau maksud lain, saya pun berusaha untuk tidak peduli.

Kalimat terakhir saya adalah untuk festival musik. Ini adalah pertunjukan yang paling memuaskan kecintaan kita terhadap musik, karena musik yang disajikan sudah pasti yang terbaik,dengan kenyamanan yang terbaik juga bagi penonton. Mereka yang merupakan penggemar musik akan merogoh kocek lebih dalam untuk membeli tiket, sedangkan mereka para tersohor dan orang – orang dengan otoritas dapat melenggang masuk tanpa tiket. Ada beberapa cerita tentang satu festival musik yang saya tonton,tapi itu cerita yang berbeda.

Tiap orang Indonesia punya caranya sendiri untuk “menikmati” pertunjukan musik


(foto diambil pada gig yang berbeda)

Klayar Trip (ditulis 9 November 2009)

Bagi anda yang tinggal di jogja mungkin sudah sering mengunjungi pantai-pantai seperti parangtritis , baron, samas, siung, depok dan masih banyak lagi, tetapi semua pantai tersebut sudah kotor dan pasirnya pun abu-abu hitam. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke lombok atau hawaii untuk mencari pantai dengan pasir putih dan susunan karang yang megah. Di pulau jawa ada satu pantai yang sudah saya kunjungi, dan masih "virgin", untuk menemukannya anda harus ke Pacitan Jawa Timur, pantai itu bernama Pantai Klayar. Disebut demikian karena disana terdapat batu besar yang terkikis ombak hingga terbentuk seperti layar kapal. Sudah sekitar dua minggu saya dan teman-teman saya merencanakan untuk ke Klayar, setelah rencana dirasa mantap kamipun mengumpulkan pasukan dan berangkat.

Perjalanan ke Klayar dibutuhkan waktu kira-kira empat jam dari Jogjakarta. Dari Jogja langsung saja menuju Wonosari, kota kecil diatas bukit. Pada perjalanan saya kemarin, mobil yang saya tumpangi bersama 6 teman saya mogok di tanjakan karena kampas kopling terbakar, bila kejadian ini nanti terjadi pada anda, tidak perlu khawatir, warga sekitar tanggap dengan turis yang kesulitan,dengan sigap seorang bapak mengantar kami ke bengkel yang tempatnya jauh terpencil, kami pun tak menyangka ditempat seperti itu ada bengkel.

Lepas Wonosari kami menuju Wonogiri, kira-kira 2,5 jam kami baru menemukan kota Wonogiri tersebut, karena si sepanjang jalan tidak ada petunjuk jalan, begitu sampai di Wonogiri kami harus beberapa kali bertanya pada warg arah jalan ke Pacitan, setelah 1,5 jam tersesat kami menuju arah yang benar, yaitu kabupaten Pacitan, jalan yang ada untuk menuju Pacitan dari Wonogiri sangat terbatas, hanya mampu dilewati satu buah mobil, kalau bertemu mobil yang berlawanan arah, mobil kami harus begitu mepet dengan jurang. Sesampainya di kabupaten tersebut kami istirahat sholat dan makan siang, namun petualangan belum berakhir tentunya.

Setelah istirahat sejenak kami pun melanjutkan perjalanan, tersasar rasanya sudah biasa pada perjalan itu, kami bertanya di restoran tempat kami makan, bertanya pada tukang ojek, dan yang memang mitra masyarakat, POLISI, setelah bertanya pada POLISI tersebut, kami menuju arah yang benar. Dari Kabupaten Pacitan, kami harus mencari desa Punung, dari desa itu kami harus menuju obyek Wisata Goa Gong, baru bisa menuju Klayar, karena jalan lain menuju kesana tidak layak dilewati mobil. Dari desa Punung ke Goa Gong kira-kira 45 menit perjalanan naik turun mengitari bukit, dengan jalan yang lebih sempit dari sebelumnya, ban mobil kami kurang dari satu meter dengan jurang, beruntung teman kami seorang driver profesional bersertifikat internasional dengan kemampuan mengemudi yang luar biasa. sebelum sampai di Goa Gong kami kembali bertanya pada warga sekitar, setelah jawaban terakhir dari warga tersebut kami pun yakin Klayar di depan sana.

Jalan yang ditempuh dari Goa Gong menuju pantai Klayar, sekitar 25 menit, kembali menyusuri bukit dengan hutan lebat dan hanya ada beberapa rumah warga, kalau malam sudah tentu tidak ada penerangan. Satu kilometer terakhir ditempuh dengan jalan berbatu yang tidak rata, namun angin pantai sudah terasa. Kami memang sudah tidak sabar untuk sampai sejak dari Wonogiri, kami peun berkelakar "jangan-jangan sampai sana pantainya sedang dikuras". Begitu sampai di tanjakan terkahir, pantaipun terlihat, cape, panas, dan pegal sepanjang perjalanan hilang dengan sendirinya. Setelah mobil diparkir, kami tidak membuang waktu untuk segera menikmati indahnya pantai Klayar.

Pantai ini benar-benar belum terjamah, disana hanya ada warga sekitar, berjualan minuman seadanya dan hanya ada fasilitas MCK sederhana, bahkan jika anda beruntung anda bisa menjadi satu - satunya pengunjung pantai tersebut. Persis seperti yang saya temukan di internet, pasirnya putih kecoklatan, persis seperti di wallpaper komputer, ombak yang mengulung kemudian menghantam tebing dan karang, pemandangan yang saya sendiri baru melihatnya. Ombak di pantai ini termasuk berbahaya, kami diperingatkan sebelumnya oleh warga jangan bermain ombak dan jangan menaiki tebing, sayang sekali padahal di tebing tersbut ada batu yang seperti layar, yang tadi saya ceritakan.

Senyum tak pernah lepas dari wajah kami, karena kami semua belum pernah melihat pantai dengan pemandangan seperti ini. Tapi sayang, kami sampai disana sore hari, sehingga kami harus lekas pulang karena sudah mulai gelap.

Perjalanan pulang kami lewat Wonogiri untuk menuju Solo, kami mau makan malam disana. Rasanya puas sekali, lepas ujian semester kami bisa travelling ke tempat hebat dengan teman - teman yang hebat

Musik Mengikuti "pasar" (ditulis 27 Mei 2009)

Telinga orang Indonesia bereaksi hebat terhadap musik dalam negerinya sendiri, menciptakan apa yang dinamakan “selera pasar”. Saya termasuk yang beruntung lahir di era rock 90an, tumbuh dengan masih mengenal musik-musik dengan kualitas aransemen terbaik, masa remaja saya geliat musik independent juga sedang pesat-pesatnya, pentas seni SMU banyak dipertunjukan maklum dulu belum ada media promosi RBT, facebook, bahkan friendster, yang merupakan jalan pintas band “kemarin sore “ dengan musik “kemarin subuh”. Musisi di luar menurut saya juga pernah mengikuti “selera pasar” tersebut.


Belum lama saya mendengarkan album pertama Jamiroquai, yang dirilis tahun 1993, yaitu Emergency On Planet Earth. Ada beberapa lagu di album ini yang berulang kali saya dengarkan, yaitu “If I Like It I Do It”, “Hooked Up”, Revolution 1993” dan “Music Of The Mind”. Jason Kay sang vokalis,sekaligus komposer memang hebat, album pertama ini benar-benar kaya dengan perpaduan brass section, string section dan sound-sound modern dari synthesizer. Sedikit berbeda dengan album-album setelahnya seperti Travelling Without Moving, Space Cowboy, Synkronized dan Funk Oddysey, yang sudah didominasi irama disco dan funk. Semua warna musik dari Funk, Samba, Disco, Jazz, Electro,sampai Blues semuanya ada di album ini. Pada era 90an awal, di eropa sana memang disco, electro , dan house musik sedang menjamur dan banyak mempengaruhi banyak musisi dalam membuat lagu, yang paling “lunak” adalah funk jazz, band seperti Jamiroquai, Brand New Heavies dan Incognito “meracuni” komposisi mereka dengan dance musik tadi, agar lebih laku “dimakan” oleh pasar. “Racun” itu memang hebat, dosisnya tepat, musik laku keras, tapi para artis tetap memiliki “sentuhan” pada karya-karya mereka, setidaknya ketika tampil langsung mereka masih dengan format band.


Anda pernah dengan lagu “Hit The Lights” milik Metallica? Lagu itu merupakan single pertama dari album Ride The Lightning. Metallica pada waktu itu, setelah memecat Dave Mustaine sebagai vokalis kemudian diganti James Hetfield dan almarhum Cliff Burton sebagai basis. Kacau, kasar, dan absurb. Lagu ini mengantar metallica melalui lautan pub dengan hujanan botol bir, karena musik mereka sangat mentah. Kalau anda punya versi demo anda akan tahu kenapa botol bir bisa melayang di pub-pub tersebut. Masuk era 80an akhir, Master Of Puppets, keluar, Sebagian kritikus berpendapat “Black Sabbath menciptakan musik Metal, dan Metallica menyempurnakan ke titik tertinggi!” , sebagian besar fans metallica menganggap album ini yang terbaik, karena komposisi musik Metal yang pas dan Kirk Hammet menunjukan kelasnya sebagai gitaris pada setiap lagu. Black Album yang rilis 1991, diprotes habis-habisan, fans tak menyangka, James Hetfield menggubah lagu secengeng “Nothing Else Matters” , Metallica “minta maaf” dengan merilis Fuel di tahun 1996, fans suka? Ya, bolehlah, tapi masih dirasa kurang. St.Anger rilis setelah vakum hampir 10 tahun, fans kembali kecewa, memang garang albumnya tapi Kirk Hammet kemana? Solo gitarnya mana?. Album Metallica yang terakhir yaitu Death Magnetic keluar tahun 2009,mereka seakan terlahir kembali, lagu dengan durasi panjang dan solo gitar yang menunjukan bahwa Kirk Hammet masih virtuoso-nya music metal. Fans dengan senang hati memaafkan mereka, Era berganti, musisi sekeras Metallica pun “melunak” walaupun akhirnya “keras” lagi.


Bagaimana dengan musik Indonesia? Setelah kerusuhan 1998, era reformasi dimulai, tidak lama empat band yang punya basis fan besar (sampai sekarang) yaitu GIGI, Dewa 19, Slank, dan Sheila on 7 mengadakan konser bersama (saya lupa kapan) , kenapa empat band ini yang saya bahas?, karena mereka masih konsisten dengan warna bermusik mereka. GIGI yang menurut saya khas dengan musikalitasnya namun tetap laku di pasaran, Slank yang tidak berhenti berkontribusi untuk musik rock tanah air, Sheila on 7 yang sudah terpecah pun sampai sekarang masih bisa mempertahankan konsep lagu-lagu cinta remaja mereka, Dewa? Kenapa berulang kali saya membahas Dewa? Setidaknya sampai album Bintang Lima saya masih mau mengaku saya Baladewa (sebutan untuk fans Dewa), tapi setelah album tersebut, saya bingung, kemana komposisi musik mereka yang kaya?, Ahmad Dhani yang mendaulat dirinya sebagai “Mister Master” dengan lihai merancang kerajaan manajemen bandnya yang sekarang kita kenal Republik Cinta, hebat, pasar “melahap” dengan rakus hasil dari rancangannya ini, komposisi kaya diganti dengan serombongan musisi berpenampilan seperti Marylin Manson salah kostum kemudian didukung serombongan wanita dengan penampilan yang.. (anda berhak menilai sendiri).


GIGI, Slank, dan Sheila on 7 tetap memperhatikan “selera pasar” bahkan mereka seolah ingin mendapatkan fans baru. Mereka tetap memperhatikan musikalitasnya dan tetap laku, sebuah hal yang sudah jarang diperhatikan band “kemarin sore” yang ingin meraup banyak keuntungan dengan jalan pintas. Setelah era band besar seperti mereka muncul band dengan basis fans yang juga besar, Peterpan, Padi dan Coklat, ketiganya bisa dikatakan satu angkatan karena single mereka ada dalam satu album kompilasi Independent “Indie Ten”. apakah mereka disukai pasar? , Tentu, Apakah dengan tetap memperhatikan musikalitas? Pasti. Setidaknya bagi mereka yang sekedar mendengarkan lagu-lagu mereka bisa berpendapat bahwa tiga band tadi memiliki ciri khas.


Bagaimana dengan band-band baru? Saya lebih suka menyebutnya band “inbox-dahsyat” atau band “RBT”. Bila mau diperpanjang tulisan ini, saya rasa tidak akan selesai, singkatnya saya sangat bingung apa yang ada di pikiran mereka?. Saya tidak bisa membedakan mereka, dan yang paling parah, saya pernah lihat di suatu acara tangga lagu TV ada salah satu vokalis yang sedang tampil, menulis kata “damai” di punggung tangannya, dia pikir dia sudah sama dengan Chris Martin? (Chris menulis “make trade fair”, di punggung tangannya yang merupakan salah satu kampanyenya dibidang perdagangan di Afrika) belakangan ini saya tau nama band tersebut LYLA, kalau saja Eric Clapton tau, ia pasti kecewa. Prihatin, masih banyak yang bisa digali dari kekayaan budaya kita dari sekedar RBT yang laku keras. Metallica dan Jamiroquai (yang sudah dibahas di awal) pernah ingin musiknya sesuai dengan pasar, tapi mereka masih memiliki sentuhan pada karya-karyanya.

Maju terus musik Indonesia!.